Berbohong Vs Berimajinasi Pada Anak

Apakah Anda pernah mendengar anak anda bercerita dengan teman-temannya jika ia baru saja dibelikan mainan baru oleh Anda? Padahal Anda sama seklai belum membelikan mainan baru untuk anak Anda. Apabila Anda mendengarnya, jangan terburu-buru mengatakan bahwa ia pembohong. Jangan-jangan, itu adalah salah satu caranya berimajinasi. Tetapi, bagaimana caranya mengetahui apakah anak Anda sedang berbohong atau berimajinasi?

Berikut ini adalah cara mengetahui dan membedakan antara anak sedang berbohong dan anak berimajinasi.
berbohong vs berimajinasi pada anak

Dunia Nyata vs Imajinasi

Pada umumnya, anak usia balita masih belum bisa membedakan antara imajinasi dan kenyataan yang sebenarnya. Nah, ketika mereka sudah masuk usia anak-anak di atas lima tahun, apa saja yang diimajinasikan anak dpat dikembangkan, mulai dari caranya bercerita, berbicara maupun

mengeluarkan ide-ide yang fantastis melebihi orang dewasa.

Apa yang pernah dilihat dan didengar oleh anak-anak dapat berkembang dalam imajinasinya. Maka dari itu, Anda sebagai orangtua harus mampu bersikap bijak dalam memahami anak Anda. Sebab, apabila sebagai orangtua Anda susah dan tidak mau mengerti anak, Anda akan sering menyalahkan dan tanpa Anda sadari bahwa Anda telah mematahkan semangat anak Anda untuk berimajinasi dan berkreasi dengan kreativitasnya.

Membedakan Anak Berbohong dan Berimajinasi

  1. Dengarkan cerita anak

Dengarkanlah baik-baik cerita anak Anda  untuk mengetahui apakah anak Anda berbohong atau berimajinasi. Jangan langsung mengatakan bahwa ia sedang berbohong saat Anda mendengar cerita yang tdak masuk akal darinya.

Jika Anda mencurigai anak Anda bahwa ia sedang berbohong, mintalah anak Anda mengulang ceritanya. Apabila ia jujur, maka ceritanya tidak akan berbeda ketika dua kali berturut-turut ia bercerita. Namun, apabila ia berbohong maka cerita pertama dan kedua akan berubah dan sama sekali berbeda.

  1. Lihat ekspresi wajah anak

Anda dapat melihat anak Anda berbohong atau berimajinasi yaitu lewat eskpresi wajahnya. Anak-anak yang berbicara jujur, raut wajahnya akan terlihat santai dengan menunjukkan emosi yang sesuai dengan apa yang dikatakannya. Sedangkan jika anak berbohong, bagaimanapun gerak-gerik tubuhnya dan ekspresi wajahnya akan menunjukkan kecemasan karena ia takut kebohongannya akan diketahui.

  1. Perhatikan bahasa tubuh anak

Apabila anak berbohong, ia akan merasa gugup, takut dan ia cenderung akan membela ceritanya bahwa apa yang diceritakannya itu benar. Apabila anak sering menyentuh hidungnya, mulut, bahu terlihat membungkuk, wajahnya kaku, dan sering menghindari kontak mata dengan Anda, kemungkinan besar bahwa anak Anda sedanga berbohong.

  1. Cerita bohong terdengar kaku

Pastikan Anda benar-benar mendengarkan apa yang diceritakan oleh anak Anda. Anak yang jujur akan bercerita dengan lancar dan terdengar mengalir dengan pengulangan cerita yang dibumbui oleh imajinasinya. Sedangakan anak yang berbohong, ceritanya akan terdengar kaku.

Sebagai orangtuanya, Anda harus membimbing dan membenarkan apa yang dikatakan oleh anak Anda apabila ada ucapan dan pemikirannya yang keliru. Anda harus meluruskan ceritanya dengan pendekatan yang baik dan memberikan penjelasan yang baik kepada anak Anda tanpa mematahkan semangatnya dan mengatakan bahwa ia berbohong.

Anda tidak perlu marah apabila anak Anda berbohong karena ia sedang berimajinasi. Imajinasinya dalam bercerita dapat menjadi bakat untuknya dan kelak apabila ia telah tumbuh dewasa, imajinasinya itu dapat mengantarkannya menjadi seorang pengarang cerita. Yang harus Anda lakukan yaitu merangarahkan, membimbing dan mendukung anak Anda.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.